Forum OMK KAM

Kok Sembahyang aja Nyanyi?

Demikian kata Gubernur SUMUT pada rekaman Videonya.

Apa tanggapan anda???

Rekaman suara Gubsu Edi Rahmayadi Saat Audiensi PW Ansor Sumut

[https://www.youtube.com/watch?v=mRLTfI-Og3A&t=1073s]

00:55: “Begitu saya dibully tentang babi ormas Islam satupun tak ada yang ngomong. Padahal itu perintah, amanah, aqidah. Untuk apa muktamar uktamar kalian? Kalau untuk menegakkan satu kebenaran jalan Allah tak ada semua kalian. Apa gunanya? O dibully habis itu. Bahkan didemo di sini oleh GMKI, sampai dihancurkannya pintu ini, mana Anshor?

  • Bully? Rasanya pak Gub sendiri mengaku di sini (pemusnahan babi) bahwa dia menjalankan perintah, amanah dan aqidah serta menegakkan satu kebenaran dijalan Allah. Begitukah?
  • Aqidah itu artinya iman (kepercayaan) yang teguh dan pasti. Wih, memang benar-benar terancam babi. Gerakan #SaveBabi menjadi masuk akal.

10:01: “Siapapun yang mengganggu akidah saya, jihat untuk saya.”

  • Jihat? Akhir-akhir makna jihat buanyak. Saya yakin pak Gub ini memangku makna jihat yang sebenarnya yakni…..

10:31: “Kita mayoritas tetapi saat ini kita tinggal minoritas. 65 % islam tetapi semua diatur oleh non islam. Kenapa? Ya kayak model-model Ansor ini  menjual harga dirinya. Sama kalian dengan pelacur. Harga diri sudah dijual. Kalau ustadznya keras sedikit radikal. Dia menegakkan itu al-Quran dibilang radikal. Giman ini? Abdul Somad radikal, Tengku Zulkarnain radikal. Yang boleh adalah ya yang Islam Nusantara, mati kalian nanti, dari dulu tak ada Islam Nusantara yang ada adalah Islam Rahmatan Lil’alamain. Tak taufak (?) … mana ada nusantara? Nanti… Yang islam yang kristen, yang hindu yang budda yaa dipimpin bergantian, enak aja kalian, bukan hanya kalian punya Islam? Oh saya menentang duluan. Oh dipanggil saya ke Jakarta sana. Tak boleh azannya keluar. Azannya keras. Saya gubernur karna gubernur. Azan itu memanggil orang solat bagi kaum muslim yang tak muslim tutup kuping kalian. Jadi perintahnya hanya dalam mesjid, dalam mesjid itu …. bukan azan. Wah ini harus jelas kita ini. Dari dulu guru ngajiku ajarin itu. Kok kalian sekarang mau kalian ubah-ubah. Mana pemuda Islam? Kalian jaga ini Islam ini. Ini harus….

  • “Semua diatur non Islam?” Sangat provokatif, menghasut tepatnya.
  • Tampaknya Pendukung A. Somad dan T. Zulkarnain in, setidaknya simpatisanlah.
  • Menolak Islam Nusantara juga kayaknya. Kayaknya ya! Asal jangan menolak Islam dan Nusantara ya pak!
  • “Non Islam Memimpin? Enak aja kalian!” Sekarang kita mimpin, kita yang enak,enak, enaakkk…. Gitu kan mau dikatakan?
  • Azan kuat-kuat aja… yang tak muslim tutup kuping kalian.

13:50: “Bisa aja Alwasliyyah milih Jarot, wah gimana ini?”

  • Politik Identitaskan? Jelas???

14:40: “Isa lahirnya di Jerusalem.”

  • Siapa Isa? Yang pasti Yesus (Yesua) lahir di Betlehem.
  • Jarak Betlehem-Jerusalem kira kira jarak Medan-Parapat.

16:09: Nahi Mungkar ini ada ditangan kita.”

  • Mencegah kejahatan” siapa si jahat yang hendak kamu tangani Pak? Jelassss?

21:38: “Orang-orang Nasrani berpesta, benyanyi, kok sembahyang aja nyanyi? Kalau kita sembahyang Kitab Suci yang kita baca, harus...lalu berbisik dia.

  • SSttt nasrani dilarang bernyanyi kalau sembahyang! Teriak di TOA saja kuat-kuat! Sekedar usul.

2 Comments

  • Tanggapan saya mengenai video itu sangat sedih dan kecewa mengingat seorang pemimpin itu dipilih untuk memimpin daerahnya agar menjadi lebih maju dan seorang pemimpin juga berperan untuk menyatukan perbedaan2 tanpa menyinggung kepercayaan satu sama lain.
    Sebagai umat katolik kita harus bijak untuk menanggapi video ini.
    Apapun pandangan orang terhadap perbedaan baik itu positif atau negatif kita harus tetap mengenakan kasih didalamnya. Apalagi di momen Prapaskah ini kita diajarkan untuk lebih mengasihi sesama baik itu musuh sekalipun.
    Semoga Tuhan Yesus mengetuk pintu hati beliau agar lebih dibukakan pintu hatinya dalam menghargai perbedaan.
    Salam dari saya.
    Orang Muda Katolik ( OMK )

    • Setuju sekali. Seorang pemimpin daerah tentu untuk semua orang di daerahnya (provinsinya) tanpa pandang SARA. Melalui ungkapan ini, sebenarnya beliau mengatakan (implisit) bahwa dia bukan untuk semua, melainkan untuk sebagian. Dia yang mengatakan itu bukan kita. Lalu apa sikap kita, apakah menyetujuinya atau tidak?

Leave a Reply to Maria_wati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *